Mengapa Harga Mobil Honda Jazz Masih Terbilang Tinggi ?

Mungkin Banyak orang Bertanya, Kenapa rekomendasi bagus masih terbilang tinggi? Sepertinya juga banyak orang lain menanyakan hal yang sama. Secara ekonomi, tingginya harga bekas Honda Jazz salah satunya diakibatkan peminatnya sendiri. Mobil ini memang diminati baik dalam kondisi baru maupun bekas. Kali ini saya akan membahas Honda Jazz tiap generasi, dan mungkin mobil ini telah mengisi masa anak – anak Anda yang sangat berharga. Saya sendiri sudah menggunakan Jazz sebagai mobil harian dari generasi pertama (GD) walau sangat singkat, dan terakhir generasi kedua (GE) RS baik yang manual dan matic, facelift dan pre-facelift yang sudah terjual semua. Untuk generasi ketiga yaitu GK.

Honda Jazz adalah mobil segmen compact hatchback pertama di Indonesia, baru disusul Toyota Yaris, Mazda2 dan kawan-kawan, sehingga saya tak salah jika menyebutnya trendsetter. Dengan kelebihannya yaitu space dan practicality serta membawa DNA Honda yang lumayan sporty, Honda Jazz sering memimpin pasar bahkan hingga saat ini. Walau pasar hatchback sekarang termakan low SUV dan crossover, namun peminat Honda Jazz dan mobil sekelasnya masih ada.

Contohnya Pada Hond Jazz GD3, The Legend Honda Jazz GD3.
Hadir pertama kali di Indonesia pada 2004, Honda Jazz cukup booming waktu itu, karena berharga terjangkau dengan brand Honda. Jazz adalah produk termurah Honda saat lahirnya, dan harganya kalau tidak salah di angka 120 jutaan dulu. Ditawarkan dengan 1 trim saja, bermesin 1.5 liter i-DSI baru beberapa saat kemudian tersedia varian mesin VTEC. Transmisinya ada manual dan otomatis CVT. Sebelumnya, Honda Fit sempat hadir di Indonesia sebelum HPM menghadirkan Jazz, dengan mesin 1.3 liter. Selang beberapa waktu, tingginya permintaan pasar membuat Honda mulai memproduksi Honda Jazz dalam negeri. Juga hadir versi sedan yaitu City (atau Fit Aria).

Eksteriornya cukup menarik pada masanya, walau sekarang terlihat cukup kuno karena pengaruh adiknya (GE8). Honda Jazz memang memiliki konstruksi yang tidak terlalu sporty. Menurut saya, disebabkan oleh desainer Honda yang memaksimalkan kabin dengan memperkecil ruang mesin. Selain itu juga disebabkan oleh adanya kaca jendela tambahan di samping belakang, sehingga mobil ini punya D-pillar. Honda Jazz ini buat saya walau tetap ada unsur sporty-nya, tetap lebih mirip MPV kecil 2 baris.

Interiornya terlihat biasa secara material, tapi desainnya yang rumit, penuh lekukan, tonjolan dan lain sebagainya cocoklah membuatnya sebagai mobil anak muda. Joknya berbentuk sporty dan nyaman juga. Posisi berkendara cukup baik, stirnya sudah bisa naik turun. Fitur di Jazz ini termasuk biasa saja bahkan di zamannya. Harga bekasnya juga sudah cukup murah, karena memang Jazz ini sudah tergolong tua. Suspensi bawaannya keras dan kurang nyaman. Tapi ada poin plus di kenyamanan yaitu kelegaan kabinnya. Duduk di belakang pun sama sekali tidak melelahkan karena kursinya nyaman dan lega, dengan headrest yang proper.

Fitur menarik di Jazz ini adalah pengatur posisi jok depan dari belakang. Fitur ini bertujuan supaya penumpang belakang bisa memaju-mundurkan jok depan. Mirip seperti pada mid-size sedan Camry dan Accord, bedanya ini diatur manual dan hanya bisa mengatur maju mudur. Jika pada sedan itu digunakan untuk memperluas legroom penumpang, berbeda dengan Jazz ini. Di Honda Jazz, tuas itu digunakan supaya ketika ingin melipat jok belakang, tapi mentok dengan jok depan, dapat dengan mudah memajukannya tanpa harus meraih tuas di bawah jok depan. Intinya, itu fitur untuk kepraktisan, bukan kemewahan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *